whatsapp-logo

Di Jakarta, dan di beberapa wilayah lainnya di Indonesia, sudah meliburkan sekolah terkait mewabahnya Wuhan Covid-19. Mulai hari ini rencananya, pelajaran jarak jauh dimulai. Untuk di DKI Jakarta, berdasarkan info di WAG (WhatsApp Group), pihak dinas memberikan uraian sebagai berikut:

Silahkan gunakan media/aplikasi yg bisa membantu terlaksananya pembelajaran jarak jauh. Misal, WA, line, Sipintar,  google class room, rumah belajar, Sekolahmu, quipper , e learning di web sekolah atau yg lainnya.

Saya meyakini, dari berbagai pilihan tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan. Namun demikian, memperhatikan peserta didik sebagai pemakai/pengguna/konsumen, rasanya harus menjadi fokus/prioritas utama. Bagi peserta didik yang kondisi keuangannya baik, maka penggunaan aplikasi yang banyak memakan kuota pulsa bukanlah masalah, terlebih handphone (Hp) yang dimilikinya begitu responsif/support terhadap aplikasi portal video atau web. Pernahkah berfikir, kalau anak murid kita, profesi orang tuanya adalah tukang ojek online ?, buruh lepas ?, yang merasakan dampak pukulan telak ketika sekolah libur ?. Bagaimana jika ortu mereka pekerja kantin sekolah?, atau pekerjaan lainnya yang secara ekonomi kurang beruntung ?. Di sinilah dibutuhkan “rasa” untuk memilih media pembelajaran jarak jauh (aplikasi) yang ramah terhadap mereka, dan juga friendly user untuk guru.

Dua minggu ke depan, guru diharapkan mampu “mengganti” proses pembelajaran tatap muka dengan proses pembelajaran non-tatap muka. Apa artinya ini?, guru diajak untuk selektif memilih aplikasi/media yang mirip pola pembelajaran tatap muka, dimana bisa melihat gurunya, bisa tanya jawab (interaktif), bisa komentar tulisan, bisa absen real time, sekaligus, (sekali lagi) ramah bagi mereka yang kurang beruntung secara kuota internet.

Memperhatikan hal demikian, menurut pertimbangan saya, media pembelajaran jarak jauh (aplikasi) yang tepat ialah WAG (Whats App Group). Seperti apa teknis pelaksanaannya, berikut panduannya:

  1. Guru menghubungi ketua kelas/Pj.mata pelajaran agar dibuatkan WAG Mata Pelajaran dengan admin Guru dan 1 peserta didik. Oleh karena perlu keikutsertaan ortu dalam KBM, maka 1 nomor ortu dapat dimasukkan dalam grup. Kepala sekolah atau wakasek/staff kurikulum, boleh juga bergabung.
  2. Ketika waktu belajar yang sudah ditentukan, guru memlainya dengan memberi salam dan motivasi positif dalam mensikapi Wuhan Covid-19. Berikutnya, silahkan mengabsen real time. Contoh: saya akan mengabsen seperti biasa. Silahkan siswa tulis absen dibawah ini, saya tunggu 5 menit ya….saya yakin, siswa segera menuliskan nama mereka, bahkan nomor absennya.
  3. Setelah absen, guru menerbitkan bahan ajar, dapat berupa catatan ringkas guru dikertas/buku lalu di foto, video pembelajaran dengan guru sebagi aktor atau orang lain, animasi, dan voice note. Boleh juga seperti ini: baca buku halaman sekian. Berikan waktu literasi baca ini sekitar 30-60 menit (disesuaikan dengan mata pelajaran masing-masing). Ingat ya, guru tidak memiliki kewajiban membuat bahan ajar. Guru bisa copy-paste dari situs terpercaya, foto dari buku atau yang sejenis. Namun demikian, membuat bahan ajar sendiri oleh guru adalah pilihan terbaik karena beliaulah yang paham perjalanan kompetensi peserta didik. Ambyar !.
  4. Selama proses literasi atau setelah selesai membaca, dibuka sesi tanya jawab. Pertanyaan dapat ditulis, atau melalui voice note. Saya yakin, teknik voice note akan menjadi pilihan favorit karena bisa langsung merespon, seperti bertanya, berkomentar, pendek kata bisa jadi sarana interaksi langsung. Persis KBM regular bukan?, bedanya cuma guru dan siswa tidak tatap muka. Untuk mata pelajaran yang mengharuskan menggunakan gambar, maka pilihan rekaman video untuk menjawab menjadi pilihan segera.
  5. Untuk mengukur proses tersebut, maka latihan soal dapat diberikan. Jangan lupa, guru WAJIB memberikan testimoni/komentar proses KBM ini. KBM selesai, jangan lupa tutup dengan do’a dan motivasi positif seperti diawal membuka pelajaran.
  6. Di hari berikutnya, guru dapat menerbitkan hasil berupa nilai, dan tentunya pujian wajar.
  7. Untuk punishman, seperti siswa yang terlambat online, atau terlambat menyelesaikan tugas, pembinaannya dapat berupa nasehat, dan ketegasan guru. Telat kumpulkan tugas, misalnya dapat tugas tambahan, atau dapat penambahan nilai minus 5. Silahkan pilih yang paling ampuh dan yang paling sesuai/tepat dengan karakter murid di kelas masing-masing.
  8. Penggunaan WAG seperti uraian no. 1-7, dengan demikian pembelajaran jarak jauh ini “nyaris” serupa dengan KBM tatap muka, seperti absen real time, bisa “tatap muka (maya)” melalui video, bisa interaksi langsung (tanya jawab) dengan guru melalui voice note. Komentar (termasuk pujian) dapat tersampaikan melalui tulisan (ketik/tangan), voice note, atau guru bisa kirim video untuk memujinya dengan mengacungkan 2 jempol untuk siswa.

Bagaimanakah monitoring pihak kepsek, pengawas, atau dinas ?. jawabnya sederhana, ketika mereka memberikan pilihan media pembelajaran jarah jauh (WAG salah satunya), saya yakin mereka sudah memikirkan bagaimana cara memonitornya. Mmmm, saya jawab deh, kalian di sana bisa melihat proses pembelajaran via WAG dengan cara mengirim capture ke pihak terkait, bahkan dalam proses, kalian bisa masuk ke group; kepsek boleh, wakasek kurikulum/staff silahkan, oya ortu saja juga ikut. Mudah bukan?…hehehehehe….

Selanjutnya, uraian no. 1-8 diatas, dapat diartikan sebagai keuntungan pembelajaran jarak jauh dengan media WAG. Seperti apa kekurangannya, berikut uraiannya:

  1. Peserta didik akan memiliki tambahan sebanyak 14-16 grup baru. Artinya, muatan HP tambah, dan bekerja lebih ekstra/berat. Siswa pasti tau apa yang dilakukan dalam mensiasatinya, misal membuang video tik-tok yang gak mendidik hahahahaha…
  2. Cara pembelajaran via WAG akan menjadi masalah ketika, siswa tidak punya HP, Hp siswa baru semalam dimaling orang, Hp tidak support WA, tidak punya kuota internet, tidak memiliki aplikasi WA, kamera hp rusak, sound hp untuk headset mati, hp disita emak karene sering Tiktokan, Hp dimainkan adik, atau dibawa emaknya….

Sebagai penutup, semoga tulisan diatas menjadi pilihan guru dalam memilih media pembelajaran jarak jauh, yang disesuaikan kondisi peserta didik dan kondisi saat ini.