KERUSUHAN DI TIMOR TIMOR MELUKAI KITA SEMUA

12 Okt 1989

(Republika – Sabtu, 7 Oktober 1995)

Anwar HarjonoKetua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat

Bismillahirrahmaanirrahiim. Dengan rasa prihatin yang sangat mendalam,
kita mencatat kerusuhan yang terjadi di Timor Timur, awal September
lalu, yang eksesnya masih terasa hingga tulisan ini dibuat. Meminjam
ungkapan Ketua Majelis Ulama Indonesia, K.H. Hasan Basri, kerusuhan
di Timor Timur yang mengambil korban umat Islam itu merupakan luka.
Walaupun kita mengharapkan luka itu tidak akan membesar, tapi luka
itu sangat menyakitkan.

Continue reading “KERUSUHAN DI TIMOR TIMOR MELUKAI KITA SEMUA”

KELUARGA CENDANA TIDAK INGIN KEHILANGAN TIMOR LESTE

Rezim Orde Baru selalu menggunakan slogan ” demi persatuan dan kesatuan bangsa ” untuk melegitimasi penjajahan atas Timor Leste. Tanpa kita sadari yang sebenarnya adalah ” demi kepentingan ekonomi keluarga Suharto ” maka Timor Leste harus tetap menjadi bagian dari Indonesia. Begitu banyak tentara Indonesia yang mati di sana semuanya hanya demi kepentingan ekonomi keluarga Suharto, begitu pula banyak tokoh pro demokrasi Indonesia yang membela bahwa Timor Leste harus menjadi bagian dari Indonesia, mereka juga telah ikut mendukung bisnis keluarga Suharto.

Continue reading “KELUARGA CENDANA TIDAK INGIN KEHILANGAN TIMOR LESTE”

PRAJURIT ABRI SEBAGAI TUMBAL

Timor Timur adalah daerah kompetisi naik pangkat bagi para perwira militer. Perang yang diciptakan oleh operasi intelijen Opsus pimpinan Jendral Ali Moertopo di Timor Timur hanyalah kesenangan ideologis dari kumpulan jendral di Jakarta untuk memuaskan psikis mereka yang ditakut-takuti oleh hantu komunisme yang ditiup-tiupkan Amerika. Perang tak berkesudahan di Timor Timur, tidak menciptakan suatu beban psiko-historis bagi para jendral tersebut, selain kebanggaan mengelus-elus lencana penghargaan dan kenaikan pangkat. Dunia para jendral Orde Baru yang menciptakan perang itu sendiri, berkebalikan dengan sisi-sisi kehidupan prajurit yang dengan terpaksa, dengan alasan yang sulit dipahami, untuk mengorbankan selembar nyawa mereka di bawah demagogi mengabdi tanah air dan negara.

Continue reading “PRAJURIT ABRI SEBAGAI TUMBAL”