Jangan Teriak Takbir, Nanti Dituduh Teroris

Oleh: Karta Raharja Ucu, wartawan Republika

Andai tak ada takbir, saya tidak tahu dengan cara apa membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajah. Kalimat itu disampaikan Sutomo, atau yang lebih dikenal sebagai Bung Tomo usai pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Takbir menjadi senjata Bung Tomo membangkitkan semangat arek-arek Surabaya melawan pasukan Inggris yang ingin menguasai Indonesia.
Continue reading “Jangan Teriak Takbir, Nanti Dituduh Teroris”

Advertisements

Ditemukan Lafal Allah dan Ali di Kain Tenun Bangsa Viking

Membaca tulisan ini, mengingatkan saya dengan film 13th Warrior yang dibintangi Anthonio Banderas (maaf jika salah eja). Bangsa Utara atau bangsa Viking dalam film tersebut didatangi kesatria muslim dari Timur Tengah, dan salah satu adegan film, ditulisakn lafaz tauhid. Dalam film menyiratkan bahwa Islam (minimal pemeluknya) sudah bercengkrama dengan bangsa Viking. Tulisan berikut ini, bukanlah khayalan film akan tetapi nyata hasil penelitian, mantab, bukan ?….
Pemakaman Viking (ilustrasi)
Pemakaman Viking (ilustrasi)

Continue reading “Ditemukan Lafal Allah dan Ali di Kain Tenun Bangsa Viking”

Jangan Lupakan 12 September 1984: Pembantaian Terhadap Umat Islam Di Tanjung Priok

(Arrahmah.com) – Aksi-aksi protes umat Islam baik terhadap kebijakan Orde Baru semakin menghebat kala Soeharto menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal. Polemik asas tunggal Pancasila semakin menghebat di masyarakat dan ormas-ormas Islam. Penolakan-penolakan terhadap Pancasila sebagai asas tunggal juga menggema di masjid-masjid. Gelombang penentangan umat Islam terhadap rezim orde baru memang tampak menguat. Namun tak ada yang menyangka, Soeharto dan rezim Orba akan melakukan suatu kekejian yang luar biasa terhadap umat Islam. Kekejian yang kelak akan kita kenang sebagai Tragedi Tanjung Priok, 12 September 1984.

Tanjung Priok, salah satu wilayah dengan permukiman padat di Jakarta, menjadi saksi kekejian rezim orde Baru terhadap umat Islam. Awal mula kejadian ini, ketika pada 8 September 1984, seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa), bernama Hermanu, memasuki Mushalla As-Sa’adah di Gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Menurut kesaksian masyarakat ia masuk masjid tanpa melepas sepatu (meski Hermanu sendiri kelak membantahnya). Di sana, ia keberatan dengan sebuah pamflet yang tertempel di dinding yang menurutnya mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan). Padahal pamflet tersebut hanya pengumuman pengajian rutin biasa.

Continue reading “Jangan Lupakan 12 September 1984: Pembantaian Terhadap Umat Islam Di Tanjung Priok”