Dartz Prombon Monaco: Kombat T98 Hardtop
OutLander di Global TV


![]()
Beberapa hari lalu, aku nonton film di Global Tv tentang Alien. Asiik banget, dan ternyata filmnya masih baru. Ada neh dibahas di Kaskus, situs officialnya (?), Wikipedia, dan imbd. Keren filmnya!!!.
Manos SAS Buffer SMAN 32 Jakarta
Kamis ini, baru pertama kali aplikasi SAS Buffer diujicobakan, beberapa teman guru mencobanya. Lebih mudah, lebih cepat. Namun, harganya mahal….
Ini Dia Sisi Lain Osama Bin Laden
VIVAnews - Orang mengenal Osama bin Laden sebagai buron teroris nomor wahid dunia. Jarang sekali orang mengetahui sisi lain dari kehidupan Osama. Istri pertama Osama, Najwa bin Laden menguak realitas lain dari sosok yang dianggap bertanggung jawab di balik sejumlah aksi teror, termasuk aksi teror fenomenal, peledakan gedung kembar World Trade Centre, New York, pada 11 September 2001. Seperti ditulis dalam bukunya, Najwa mengatakan Osama adalah sosok ayah yang sangat disiplin. Osama tak ragu memukul anaknya yang tersenyum sangat lebar, hingga terlihat deretan giginya. Di sisi lain Osama punya kegemaran berkebun bunga matahari dan menganggap mobil sport laiknya istri pertamanya.
Read more…
Siswa SMKN 1 Jadi Trainer Asia, Korupsi Masuk Kurikulum



SURABAYA – SURYA- Dua siswa SMKN 1 menjadi wakil Indonesia dalam forum IT dan program pertukaran trainer/expert se Asia. Tak hanya itu, mereka juga akan menjadi trainer di Vietnam dan Kamboja, Oktober-Desember 2009.
Dua siswa SMKN 1 itu adalah Rara Indah Permatasari, siswi kelas XII MM 2, dan Muhammad Basofi Eko Nugroho, siswa kelas XII RPL 2. Mereka akan didampingi gurunya, yakni Wiyono.
Read more…
Manusia Biasa: Hari ini lupa dan telat ngajar….
Sejak tahun 2004, saya menempatkan diri sebagai seorang guru yang tepat waktu, on time. Segala upaya diarahkan kesana, dan peserta didik mengakuinya. Perasaan percaya diri ini, selalu dilengkapi dengan bukti bahwa saya selalu datang tidak pernah terlambat, dan kalaupun telat, biasanya ada briefing dari kepala sekolah diruang guru. Singkat kata, pengakuan diri dan pesrta didik, telah posisikanku sebagi guru tepat waktu (ke-PD-an ngak seh?)
Read more…
“Klaim” Budaya Itu, Sekali Lagi
Rabu, sehari lalu, aku membaca koran Kompas dengan judul diatas. Ku baca perkatanya, perkalimatnya, dan perparagrafnya. Satu hal yang menarik, bila data penulis ini benar, maka benar adanya sikap pemerintah yang lamban dalam menanggapi banyaknya klaim budaya oleh Malaysia. Pemerintah, pertama, tidak peduli dengan khasanah budaya di wilayah NKRI, kedua, pemerintah masih ragu–tidak memiliki kajian ilmiah, kalah dengan Malaysia–apakah budaya yang diklaim adalah benar-benar milik Indonesia?, ketiga, apakah Indonesia lebih baik dari Malaysia soal jiplakmenjiplak???…namun demikian, tulisan sastrawan yang kritis ini, setidaknya menyadarkan, bahwa masih banyak perspektif, tidak selalu menyoal politik Ganyang Malaysia, dan gonjang-ganjing rakyat akan kebenciannya kepada Malaysia, tidak lebih sebagai kemarahan terhadap pemerintah karena lalai, dan pemerintahlah yang harus menjawab carut-marutnya kenyataan ini…
selamat membaca artikelnya, bagus deh…
Oleh Radhar Panca Dahana
Supaya tidak terjebak dalam siklus kata-kata yang tidak produktif, kasus ”klaim tari pendet oleh Malaysia” ada baiknya mengklarifikasi satu hal: klaim yang diributkan itu sebenarnya tidak ada. Promo wisata Malaysia yang dibuat Discovery Channel tidak menyebutkan ikon-ikon budaya Indonesia yang ditampilkan sebagai milik, karya cipta, atau hak budaya mereka. Hal itu hanya dilakukan untuk kepentingan komersial/bisnis. Untuk soal seperti ini, sebenarnya terlampau kerap kita menjumpai kasus serupa, tanpa kita keberatan.
Promo wisata Singapura, misalnya, tak terhitung frekuensinya menggunakan gambar/video karya budaya Indonesia, termasuk wayang dan tari pendet. Tak ada keributan. Sebagaimana kita tahu, dalam propaganda politiknya, Nelson Mandela hadir di media massa global mengenakan batik. Atau museum di Paris dan Barcelona mempromosikan gamelan sebagai ikon utamanya. Dalam sebuah pergaulan budaya, sejak ribuan tahun, soal jiplak-menjiplak adalah hal lumrah, bahkan menjadi kewajaran kebudayaan. India tidak pernah marah saat orang Jawa menyatakan Mahabarata atau Ramayana adalah ekspresi kultural, bahkan sumber identitas. Rabindranath Tagore, pada awal abad ini, setelah berkeliling Jawa, menegaskan kepada sejawatnya, Sanusi Pane cs, tentang sasus ada ”India kecil” di kawasan tenggara. ”Dusta. Itu bukan India,” tegasnya, ”itu Jawa, yang bahkan India sendiri tidak mampu membuatnya.” Begitupun China tidak marah dengan banyak ekspresi budaya Indonesia yang diambil darinya, mulai sisingaan di Subang, beduk, baju koko, hingga—menurut Remy Silado—nada musik slendro. Apakah keroncong membangkitkan amarah orang Portugis? Bagaimana dengan musik gambus, marawis, sastra Bali, seni Betawi, hingga gaya harajuku anak muda masa kini?
Read more…
LSN: Publik Ingin Malaysia Diganyang

INILAH.COM, Jakarta – Klaim Malaysia terhadap beberapa jenis kebudayaan dan juga teritorial Indonesia akhir-akhir ini rupanya cukup menjengkelkan. Masyarakat ingin pemerintah bertindak lebih tegas menanggapi persoalan ini.

Berdasarkan siaran pers yang diterima INILAH.COM, Jakarta, Kamis (3/9), hasil survei terbaru Lembaga Survei Nasional (LSN), mayoritas publik minta pemerintah RI dapat lebih bersikap tegas terhadap negeri Jiran tersebut.
Read more…









Ketahuilah, bahwa yang terpenting bukan hanya "bagaimana belajar sejarah", melainkan "bagaimana belajar dari sejarah". Soekarno menegaskannya dengan istilah: "Jasmerah" (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Bahkan, seorang Cicero begitu menghargai sejarah dengan menyebutnya sebagai "Historia Vitae Magistra" (Sejarah adalah Guru Kehidupan), sedangkan Castro berteriak dengan lantang di pengadilan: "Historia Me Absolvera !!!" (Sejarah yang akan Membebaskanku!!!). Haruskah kita menyingkirkan sejarah?, bored with history?, hated social scientific history?...


saNg PenGoMenTar