Mental Inlander: Perlukah Beterimakasih Atas Penjajahan Belanda

Bagus tulisan ini, menohok pihak-pihak memiliki pemikiran infrastruktur oriented. Tulisan ini mengajarkan kita untuk belajar melihat ke bawah permukaan, apa tujuan atau manfaat dari sebuah tindakan atau kebijakan. Aroma “udang di balik batu” yang harusnya menjadi acuan berfikir, berfikirlah jauh ke depan, dan gali makna dari suatu kebijakan. Metal inlander yang sebenarnya menjadi masalah laten bangsa ini, telah menjadi manifest: nyata bagi orang yang berfikir. Tulisan ini, bagi saya, menohok Ahok dan Jokowi. Selamat membaca…..
lasykar-rakyat-dalam-pemberontakan-petani-dan-ulama-di-banten-_170818073548-108

Oleh: Dr Syahganda Nainggolan*

Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, yang juga menjadi calon gubernur Jawa Barat, menyampaikan pandangan kontroversial dua hari lalu, yakni mengatakan seharusnya kita berterima kasih kepada Belanda. Dedi menyatakan positifnya Belanda yang membangun sistim irigasi yang kuat dan kokoh yang bisa 
mengatur manajemen air untuk pertanian dengan baik. Dan meninggalkan asset itu serta perkebunannya buat kita.

Continue reading “Mental Inlander: Perlukah Beterimakasih Atas Penjajahan Belanda”

Advertisements

Hatta-Sjafruddin: Kisah Perang Uang di Awal Kemerdekaan

Wapres Mohamad Hatta memeriksa pasukan kehormatan di Linggarjati, Cirebon, 17 November 1946.

Wapres Mohamad Hatta memeriksa pasukan kehormatan di Linggarjati, Cirebon, 17 November 1946.

Oleh: Lukman Hakiem* 

Setiap memperingati ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan, yang terbayang oleh kita biasanya hanya dua: perjuangan militer, dan perjuangan diplomasi. Hampir-hampir tidak diingat,  ada perjuangan yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya yaitu “perang uang”.
Continue reading “Hatta-Sjafruddin: Kisah Perang Uang di Awal Kemerdekaan”

Persekusi Para Pemelintir

Nasihin Masha

Oleh : Nasihin Masha

REPUBLIKA.CO.ID, Tiba-tiba saja publik Indonesia dihebohkan oleh kosa kata “persekusi”. Objeknya adalah adanya orang-orang yang terkena tindakan akibat perbuatannya di media sosial. Awalnya adalah membuat status atau tulisan di facebook, twitter, atau instagram. Umumnya adalah mereka memberikan penilaian yang negatif terhadap seseorang atau sesuatu. Lalu orang-orang itu dicari alamatnya dan kemudian didatangi. Mereka akan diminta untuk meminta maaf secara tertulis di atas meterai, diucapkan secara verbal dan divideokan serta membuat status meminta maaf di media sosialnya. Di antara mereka ada yang dikata-katai, diancam, bahkan ada yang mendapat tindakan fisik.
Continue reading “Persekusi Para Pemelintir”